karir

Ini semua tentang karir dan masa depan

Mungkin ada dari sebagian sodara sodara yang bekerja di satu perusahaan lalu memutuskan pindah atau meninggalkan perusahaan tersebut karena satu dan lain hal. Serta alasan yang pasti adalah tidak cocok dengan kondisi kerja, atau gaji, atau lingkungan kerja, atau pun perusahaan tempat bekerja tersebut. Cuman, pertanyaan saya adalah, apakah harus keluar lalu menjadi jobless? Pernahkah kepikiran seperti ini? 

Dah beberapa bulan terakhir, rekan kerja dah memutuskan keluar dari perusahaan tempat ane bekerja. Alasannya cuman satu, perusahaan tidak memberikan masa depan. Saya masih kepikiran apakah harus keluar dengan menjadi jobless? or what?

Saya pernah dalam waktu 2 hari melayani 2 panggilan interview di kota yang berbeda, itu semua hanya untuk career dan rela mengorbankan waktu dan materi hanya untuk sesuatu yang bisa membawa perubahan ke depannya. Cuman, bagi sebagian orang tindakan saya begitu tidak masuk akal bagi mereka, tetapi ini lah yang menjadi tantangan dan nilai positif. Saya bisa tau kelemahan saya dari sikap orang lain yang begitu pasif, be introvert or extrovert is the other case. 

 

#4 Murkanya menjelang weekend

Hari hari kerjaan nggak karuan, sono kamari eh… dokumen yang perlu di proses masih menumpuk. Tinggi tumpukan malah ngalahin tinggi LCD monitor. Yang penting mah cuek, kebetulan si boss nggak brane untuk nyuruh ane ngerapiin atau pun ngeburis tumpukan dokumen ntuh.

Yang bikin saya murka hari ini adalah betapa labilnya mereka yang memiliki background pendidikan SMA/SLTA dalam tutur kata dan juga emosi. Saya sudah menyadari hal ini ketika memasuki dunia kerja pertama kali. Saya kira, mereka dengan background pendidikan seperti itu lalu ditambah dengan pengalaman kerja yang lebih dari 15 tahun sudah  bisa menentukan mana kata-kata dan sikap yang tidak sopan, ternyata anggapan saya salah. Kebalikannya.

  • Konfirmasi material prepation project ditanggapi dengan emosi dan kata-kata tidak sopan. WTF!
  • Nanya saya alumni mana, WTF!
  • Menyerang secara frontal, WTF!

Dari kejadian hari ini, saya hanya bisa belajar untuk bisa mengendalikan emosi dan tutur kata. Walalupun itu menyerang kembali secara psikis namun kita tidak menyakiti perasaan lawan bicara toh, tetapi sikap kita tetap dalam jalur aman.

1 jam lebih saya menahan emosi bahkan department head pun nggak berani ngubris atau pun mendekati saya sampai jam kerja selesai. Entahlah, saya sudah tidak peduli terhadap perusahaan tempat saya kerja sekarang ini.

Biarlah KPI tidak tercapai, project bermasalah, inventory control macet, entahlah. Karena lagi fokus nyari tempat yang lebih baik untuk karir.